Selatpanjang (Kota)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, Sejarah Singkat Selatpanjang
| Selatpanjang | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Ibu kota kabupaten | ||||||
| Negara | ||||||
| Provinsi | Riau | |||||
| Kabupaten | Kepulauan Meranti | |||||
| Kecamatan | Tebing Tinggi | |||||
| Area | ||||||
| • Total | 849.50 km2 (327.99 sq mi) | |||||
| Populasi (2007) | ||||||
| • Total | 76.763 | |||||
| • Kepadatan | 90/km2 (230/sq mi) | |||||
Selatpanjang adalah ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, Indonesia.
Kota Selatpanjang juga merupakan Ibukota Kecamatan Tebing Tinggi,
kota ini terletak di bagian pesisir utara Pulau Tebingtinggi dan
memiliki wilayah seluas 45,44 km2 dan jumlah penduduk berdasarkan Susnas
2010 sebanyak 76.763 jiwa dengan kepadatan 75,27 jiwa/km². Kota
Selatpanjang juga berjulukan sebagai Kota Sagu karena daerah ini
termasuk salah satu Kawasan Pengembangan Ketahanan Pangan Nasional
karena penghasil sagu terbesar di Indonesia. Sebelum pemekaran wilayah
pada tahun 2009, Kota Selatpanjang berada dalam wilayah Kabupaten Bengkalis.
Sejarah
Kota Selatpanjang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Meranti, duhulu merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan terkenal perniagaan di dalam kesultanan Siak.[1] Bandar ini sejak dahulu telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa,
karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan
kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian
antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan
dan lalu lintas barang barang maupun manusia dari China ke nusantara dan sebaliknya.
Daerah Selatpanjang dan sekitarnya sebelumnya merupakan wilayah
kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang merupakan salah satu
kesultanan terbesar di Riau saat itu.Pada masa pemerintahan Sultan Siak
VII yaitu Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (yang bertahta tahun 1784–1810), biasa disapa Sultan Syarif Ali, memberi titah kepada Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha
untuk mendirikan Negeri atau Bandar di Pulau Tebing Tinggi. Selain
tertarik pada pulau itu juga karena Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul
Jalil Syaifuddin Baalawi sendiri pernah singgah ke daerah itu, tujuan
utama Sultan Syarif Ali ingin himpun kekuatan melawan kerajaan Sambas (Kalimantan Barat)
yang terindikasi bersekutu dengan Belanda yang telah khianati
perjanjian setia dan mencuri mahkota Kerajaan Siak. Negeri atau Bandar
ini nantinya sebagai ujung tombak pertahanan ketiga setelah Bukit Batu dan Merbau'' untuk menghadang penjajah dan lanun.
Maka bergeraklah armadanya dibawah pimpinan Panglima Besar Muda
Tengku Bagus Saiyid Thoha pada awal Muharram tahun 1805 Masehi diiringi
beberapa pembesar Kerajaan Siak, ratusan laskar dan hulu balang menuju
Pulau Tebing Tinggi. Mereka tiba di tebing Hutan Alai(sekarang
Ibukota Kecamatan Tebingtinggi Barat). Panglima itu segera menghujam
kerisnya memberi salam pada Tanah Alai.Tanah Alai tak menjawab, Ia
meraup tanah sekepal, terasa panas. Ia melepasnya, “Menurut sepanjang
pengetahuan den, tanah Alai ini tidak baik dibuat sebuah negeri karena
tanah Hutan Alai adalah tanah jantan, Baru bisa berkembang menjadi
sebuah negeri dalam masa waktu yang lama,” kata sang panglima dihadapan pembesar Siak dan anak buahnya.
Panglima bertolak menyusuri pantai pulau ini. Lalu, terlihat sebuah tebing yang tinggi. “Inilah gerangan yang dimaksud oleh ayahanda Sultan Syarif Ali,” pikirnya. Armada merapat ke Tebing Tanah Tinggi bertepatan tanggal 07 April 1805 Masehi. Di usia masih 25 tahun itu, dengan mengucap bismillah Panglima melejit ke darat yang tinggi sambil memberi salam. “Alha-mdulillah tanah tinggi ini menjawab salam den,” katanya. Tanah diraupnya, terasa sejuk dan nyaman. Ia tancapkan keris di atas tanah (lokasinya sekarang kira-kira dekat komplek kantor Bea Cukai Selatpanjang). Sambil berkata, “Dengarkanlah
oleh kamu sekalian di tanah Hutan Tebing Tinggi inilah yang amat baik
didirikan sebuah negeri. Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan
makmur apabila pemimpin dan penduduknya adil dan bekerja keras serta
menaati hukum-hukum Allah.”
Panglima itu berdiri tegak dihadapan semua pembesar kerajaan, laskar, hulu balang, dan bathin-bathin sekitar pulau. “Den
bernama Tengku Bagus Saiyid Thoha Panglima Besar Muda Siak Sri
Indrapura. Keris den ini bernama Petir Terbuka Tabir Alam Negeri. Yang
den sosok ini den namakan Negeri Makmur
Geografi
Selatpanjang
terletak berada bagian utara di Pulau Tebing Tinggi secara Geografis
terletak antara 0° 48' 36" - 1° 2' 24" Lintang Utara, dan 102° 25' 12" -
103° 0' 0" Bujur Timur, membuat Kota ini sangat strategis selain dekat
dengan Negara Tetangga,Selatpanjang juga berada dijalur pelayaran dan
perdagangan Internasional Selat Malaka di Dua Negara yaitu Malaysia dan
Singapore,serta secara tidak langsung sudah menjadi daerah Hinterland
Kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam dan Tanjung Balaikarimun sekaligus
juga berada Kawasan Segitiga Pertumbuhan Ekonomi Indonesia - Malaysia -
Singapore (IMS-GT). Posisi ini menjadikan Selatpanjang sebagai salah
satu daerah yang mempunyai potensi mengembangkan ekonomi sehingga
memiliki daya tarik investasi kedepan sebagai salah satu Kota Niaga di
pesisir Riau. Kota Selatpanjang terletak di Pulau Tebingtinggi,daerah
pulau ini merupakan daratan rendah dan sebagian wilayahnya masih terdiri
dari daerah rawa-rawa dan hutan bakau.
Secara administratif, Kota Selatpanjang berbatasan dengan:
- Sebelah utara: berbatasan dengan Kecamatan Rangsang Barat
- Sebelah selatan: berbatasan dengan Kecamatan Tebing Tinggi Barat dan Kecamatan Tebing Tinggi Timur
- Sebelah barat: berbatasan dengan Kecamatan Tebing Tinggi Barat
- Sebelah timur: berbatasan dengan Kecamatan Tebing Tinggi Timur
Kondisi Iklim
Kota Selatpanjang beriklim tropis yang sangat dipengaruhi oleh sifat
iklim laut, dengan temperatur berkisar 25° - 32° Celcius. Musim hujan
biasa terjadi antara bulan September hingga Januari, dengan curah hujan
rata-rata berkisar antara 809-4.078 mm/tahun,periode kering (musim
kemarau) biasanya terjadi antara bulan Februari hingga Agustus. Angin
berhembus sepanjang tahun secara bergiliran, yaitu dari arah Utara untuk
Januari sampai April. Dari timur bulan April sampai Juli, dari arah
Selatan Juli sampai Oktober dan dari arah Barat Oktober sampai Januari.
Demografi
Penduduk Kota Selatpanjang berjumlah 76.763 jiwa (2010). Dengan kepadatan penduduk 55 jiwa/km2.
Jumlah Penduduk Kecamatan Tebing Tinggi/Selatpanjang Menurut Desa/Kelurahan dan Jenis Kelamin Hasil Sensus Penduduk (dalam ribuan)
| Desa/Kelurahan | Laki-laki | Perempuan | Laki-laki + Perempuan |
|---|---|---|---|
| Selat Panjang Kota | 5,5 | 5,0 | 10,5 |
| Selat Panjang Barat | 2,6 | 2,5 | 5,1 |
| Selat Panjang Timur | 7,2 | 7,1 | 14,3 |
| Selat Panjang Selatan | 4,1 | 4,0 | 8,1 |
| Banglas | 2,6 | 2,4 | 5,0 |
| Banglas Barat | 1,8 | 1,7 | 3,5 |
| Sesap | 0,3 | 0,2 | 0,5 |
| Alah Air | 2,4 | 2,3 | 4,7 |
| Alah Air Timur | 1,4 | 1,4 | 2,8 |
| Kec. Tebing Tinggi | 27,9 | 26,6 | 54,5 |
Ekonomi
Mata
pencarian penduduk Selatpanjang secara umum masih didominasi
perdagangan, perikanan, perkebunan. Kota Selatpanjang dahulu dikenal
sebagai Kota Sagu, karena daerah ini dulu menghasilkan sagu
dalam kuantitas besar bahkan yang terbesar di Indonesia . Namun,
sekarang produksi sagu diperkirakan telah berkurang akibat banyaknya
perkebunan sagu yang beralih fungsi menjadi permukiman penduduk seiring
tingkat pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi di daerah ini.
Pariwisata
Objek Wisata Budaya Selatpanjang
Vihara Sejahtera Sakti Selatpanjang
Tandu yang membawa Dewa Qing Shui Zu Shi
Perayaan Imlek di Selatpanjang
Perayaan Hari Raya Imlek (Tahun Baru Imlek)
adalah tradisi pergantian tahun baru etnis Tionghoa. Imlek tak ubahnya
seperti Tahun Baru Masehi atau Tahun Baru Hijriah bagi umat Islam. Imlek
adalah nama kalender/penanggalan Cina berdasarkan peredaran bulan.
Namun bagi umat lain yang beraliran sama juga bisa merayakan Hari Raya
Imlek. Acara Perayaan Imlek memang sudah menjadi bagian dari tradisi di
Kota Selatpanjang. Hampir setiap tahun perayaan Imlek di kota ini
dirayakan sangat meriah bahkan juga termasuk Perayaan Imlek yang paling
meriah di kawasan Provinsi Riau selain di Bagansiapiapi dan Bengkalis.
Apalagi pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Meranti juga sudah
menjadikan ivent perayaan Imlek sebagai salah satu asset wisata tahunan
yang masuk kedalam Kalender Wisata Riau.Puluhan ribu orang baik dari
dalam maupun luar Selatpanjang bahkan wisatawan dari luar negeri seperti
Singapura, Malaysia, Hongkong, China, Taiwan, Australia akan membanjiri Kota Selatpanjang untuk turut serta memeriahkan perayaan Imlek.Imlek
bagi sejumlah warga Tionghoa Selatpanjang yang berada di luar daerah
maupun di luar negeri dijadikan ajang Tradisi Mudik, ini sudah
berlangsung lama bahkan mereka anggap sebagai momentum penting untuk
mudik ke tanah kelahiran. Walaupun puncak acara Perayaan Tahun Baru
Imlek di Selatpanjang berlangsung pada hari ke-6 bulan pertama Tahun
Baru Imlek yang biasanya disebut Cue Lak (Bahasa Hokkian),tetapi kemeriahannya mulai terasa dihari H-7 yaitu seminggu sebelum jatuhnya perayaan Imlek.
Mengawali penyambutan tahun baru imlek di selatpanjang di pusatkan di
Vihara Sejahtera Sakti, Selain mengelarkan sembahyang,yang paling unik
didaerah ini adalah warga yang merayakan juga berkeliling kota pada
waktu sore hari dengan mengunakan Bentor
( Becak Motor ) biasanya berlansung selama 6 hari. Sebelum puncak acara
imlek biasa diawali Festival Kembang Api pada hari Ke 5, durasi kembang
api biasa berlangsung cukup lama,kurang lebih (±)sampai 3 jam
lamanya,hal itu yang membuat ketertarikan wisatawan dari dalam maupun
luar negeri untuk menyaksikan,karena itu imlek secara tidak langsung
menjadi ajang promosi spektakuler wisata budaya unggulan yang ada di
Kabupaten Kepulauan Meranti
Pada puncak perayaan imlek merupakan hari di mana bertepatan dilangsungkan perayaan untuk ulang tahun Dewa 清水祖師 Qing Shui Zu Shi[3].(Bahasa Mandarin)/Ching Cui Co Su (Bahasa Hokkian)(nama dewa).Pada moment ini warga Tionghoa
menyakinkan bahwa sang Dewa tersebut sedang turun ke bumi dengan maksud
untuk mengusir unsur unsur kejahatan dan memberikan kemakmuran dan
ketentraman bagi warga kota Selatpanjang. Untuk itu diadakan penyambutan
khusus dengan menggotong tandu patung Dewa dan dipawai berkeliling kota
melewati beberapa kelenteng lain disertai menggelar atraksi tarian
liong(naga),dan atraksi barongsai(singa) dan diiringi seni budaya jawa reog ponorogo yang berasal dari Jawa Timur.Perayaan
pada Cue Lak tersebut juga diiringi oleh para tetua atau orang yang
terpilih dan dirasuki oleh roh para dewa yang biasa disebut Thangkie
yaitu di mana raga atau tubuh orang tersebut dijadikan alat komunikasi
atau perantara roh dewa tersebut, hal itu ada kesamaan di Kota Singkawang (Kalimantan Barat ) yang biasa dikenal Tatung.
Konon, perayaan Imlek di Selatpanjang dapat juga diartikan sebagai
sebuah rezeki bagi seluruh masyarakat yang tinggal di daerah ini. Oleh
karena itu tidak mengherankan apabila masyarakat yang non etnis Tionghoa
biasanya juga turut ikut meramaikan perayaan Imlek dengan iring-iringan
reog ponorogo (bagi masyarakat Jawa) dan atraksi-atraksi kesenian lain
yang merupakan tradisi dari daerah setempat.
Kota ini juga merupakan salah satu kota di Provinsi Riau selain Bagansiapiapi yang mempunyai jumlah Kelenteng
yang cukup banyak yakni sekitar 20-an. Selain itu masih ada bangunan
sejarah seperti Masjid Raya Darul Ulum dan Gereja HKBP. Masjid Darul
Ulum merupakan salah satu Masjid besar di Kota Selatpanjang. Masjid ini
merupakan ikon objek wisata yang juga menyedot banyak kunjungan turis
dari Singapura ataupun Malaysia.
Objek Wisata Kuliner Selatpanjang
Selatpanjang juga dikenal sebagai kota kuliner.Daerah ini terdapat bermacam jenis makanan yang punya ciri khas tertentu seperti:
Mie Sagu Selatpanjang
Rama rama lada hitam
Mie Sagu
Mie
Sagu merupakan makanan khas dari daerah Selat Panjang,dan sudah dikenal
luas keseluruh penjuru indonesia,bahkan luar negeri.Karena bahannya dari
sagu,mie ini warnanya agak bening dan rasanya agak kenyal,tekstur
kenyalnya seperti karet gelang dan warnanya seperti bihun hanya lebih
bening dan ukurannya lebih besar. Rasa dan aromanya pun lain, punya ciri
khas, tidak seperti mie basah ataupun bihun.Penyajian makanan ini sudah
beragam tetapi pada umumnya penyajian digoreng dengan taburan
kucai,tauge,udang,ikan teri dll.
Mie Sultan
Mie
ini juga makanan khas dari Selatpajang.Mie ini terdiri dari campuran
mie kuning yang telah direbus, bakwan udang, irisan telur, tauge, dan
irisan mentimun. Plus taburan bawang goreng dan irisan seledri. Kuahnya
dari kuah kacang yang kental dan mempunyai aroma rasa kacang yang sangat
dominan dalam rasa dan terasa pedas.
Rama Rama Lada Hitam/Ma Cao Hey Selatpanjang
Rama rama adalah sejenis lobster lumpur (Thalassina anomala/mud lobster).
Masyarakat Selatpanjang menyebutnya sebagai rama-rama/Ma Cau Hey atau
lobster bakau. Bentuknya seperti lobster tetapi ukuran lebih kecil
selain lembut dagingnya, rasanya seperti daging kepiting ataupun daging
lobster, kaya akan gizi. Kandungan protein yang terkandung juga
tinggi.Cara penyajian biasa dimasak seperti memasak kepiting lada hitam
dengan saus tomat, cabe, nanas dan kacang yang digiling dengan jumlah
minyak yang banyak. Hasil ini rasanya unik dengan rasa manis dan pedas
dari makanan laut yang tampak aneh,makanan ini termasuk makanan lezat
dan langka.
Miso
Miso adalah
sejenis mie kuah,mie ini terdiri mie kuning dan mie bihun yang telah di
rebus dan ditaburi tahu,daging ayam,bawang goreng dan irisan seledri
dengan disiram kuah sup yang mempunyai ciri khas dengan aroma yang
kental dan harum serta dengan paduan kecap dan cabe rawit sehingga
rasanya keseluruhan terasa asin dan pedas.
Lontong Sayur
Lontong
sayur adalah makanan yang sangat populer di Selatpanjang, walaupun
bukan makanan asli Selatpanjang, tetapi Lontong Sayur Selatpanjang
memiliki ciri khas tersendiri yang tentu saja berbeda dengan Lontong
Sayur di tempat-tempat lain. Sejarah makanan ini diselatpanjang sudah
bergitu lama, semenjak sebelum kemerdekaan. Walaupun telah mengalami
perubahan di kuah sayurnya yang terus mengikuti selera, namun yang masih
tetap asli adalah lontongnya yang masih menggunakan pembungkus daun
pisang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar